Eksistensi Desain Produk dan Tantangannya

Malam tadi saya dan beberapa teman di Komunitas Desain Produk Industri Indonesia (KDPII) sempat berdiskusi tentang apa sebenarnya permasalahan desain produk di Indonesia? Ya, topik yang berat untuk diperbincangkan di akhir minggu bukan? Haha! Namun sebenarnya bagi kita semua yang mencintai keberadaan bidang ini jadi sangat menarik, karena tanpa kita tahu apa saja permasalahannya maka kita akan terus menerus berkeliling kesana kemari tanpa bisa memecahkannya. Itulah yang menjadikan diskusi kemarin menjadi diskusi yang cukup menarik. 

Apakah Desain Produk itu Dibutuhkan?

Jika kita bicara stakeholder, tentunya untuk menjaga eksistensi dari profesi dan juga bidang desain produk ini kita tidak bisa hanya melihat dari core keilmuannya saja, namun juga hulu serta hilir dan seluruh pihak yang sekiranya berkepentingan terhadap keberadaan bidang desain produk ini. Pertanyaan yang sangat-sangat mendasar yang muncul diawal diskusi adalah, apakah kebutuhan terhadap bidang desain produk ini ada? Mohon maaf walaupun pertanyaan ini mungkin dirasakan kurang ajar, namun kita harus jujur bahwa banyak pihak-pihak yang kita anggap sebagai stakeholder dari bidang desain produk ini makin lama makin bingung, mulai dari bingung mencari tenaga ahlinya (yang artinya mereka sudah paham atas keberadaan bidang ini) sampai yang completely tidak tahu bahwa bidang desain produk ini eksis.

Apa sebenarnya penyebab pertanyaan diatas itu muncul? Bukankah seharusnya sejak bidang ini diperkenalkan ke masyarakat dulu harusnya tidak ada lagi yang harus dipertanyakan?

Banyak orang lupa (termasuk sebagian besar dari kita) bahwa sebuah message tidak bisa hanya sekali-dua kali digaungkan namun harus secara konstan dan terus menerus digaungkan sampai message tersebut menjadi sebuah “kebenaran” dimata masyarakat. Bahkan seorang menteri propaganda NAZI, Joseph Goebbles sempat memberikan pernyataan yang sedikit banyak bisa menggambarkan kekuatan sebuah message:

A lie told once remains a lie but a lie told a thousand times becomes the truth

– Joseph Goebbles –

Goebbles menyatakan bahkan kebohongan pun bisa menjadi kebenaran jika terus menerus digaungkan, kita sering mendapati ini dalam konteks politik.

Dari pernyataan Goebbles tersebut, artinya sedikit banyak memang bidang desain produk ini kurang terekspos atau diekspos ke bukan hanya stakeholder mereka namun juga ke masyarakat pada umumnya. Jika para praktisi dan institusi serta stakeholder lainnya berharap bahwa message tentang keberadaan bidang ini bisa terus berlangsung sejak desain produk diperkenalkan di Indonesia (sekitar tahun 70an) maka kemungkinan itu yang menjadi pokok permasalahan mengapa pertanyaan tentang apakah desain produk ini dibutuhkan muncul ke permukaan hampir 40 tahun kemudian.

Apa yang akan terjadi jika Desain Produk tidak dikenal?

Paling sederhana ya permintaan akan tenaga ahli desain produk akan beresiko hilang juga. Karena bidang ini tidak dikenal maka stakeholder akan kembali ke pemahaman bahwa untuk memberikan kesatuan antara fungsi dan estetika dibutuhkan engineer (orang teknik) dan seniman/dekorator. Institusi pendidikanpun jadi tidak memiliki alasan yang kuat untuk membuat jurusan desain produk karena tidak ada demand bagi lulusannya. Sehingga ya tidak ada yang ingin masuk ke jurusan desain produk. Dilain pihak, kebutuhan akan pekerja ahli berbasis bidang seni akan naik untuk mengisi kebutuhan untuk kebutuhan mendesain produk.

Mengerikan? Ya mengerikan bagi para praktisi yang sudah ada sekarang, namun bagi stakeholder baru, hal ini biasa-biasa saja karena kebutuhan itu ditentukan oleh supply & demand, jika supply akan naik jika demand juga naik. Dalam hal ini demand akan jasa desain produk tidak akan pernah hilang, namun pertanyaannya bidang apakah yang akan jadi penyupply nya?

Saya pribadi sama sekali tidak yakin kalau bidang ini akan hilang, hanya saja menurut saya bisa saja penyebutannya saja berubah atau pelaku/eksekutornya diambil alih oleh mesin (AI). Ya kalau pelakunya mesin bukan berarti kekuatan pemikirannya juga bisa diambil oleh mesin, karena saya yakin kreativitas manusia itu tidak bisa tergantikan oleh AI.

Tantangan semakin besar: Pasar Global

Diskusi tadi malam akhirnya kembali shifting saat salah satu rekan, Noro Ardanto (LampuRuna)mengingatkan bahwa tantangan kita semua ini bukan hanya pasar lokal lho namun pasar global.

Sejak tahun 2015-2016 Indonesia memasuki kesepakatan yang berlaku di ASEAN yang namanya MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) dan ini adalah perwujudan nyata dari mulai terbukanya pasar kita menuju ke pasar global. Ya pasar global itu tidak terelakkan, untuk sekedar mengingatkan silahkan lihat vlog yang saya buat beberapa tahun lalu saat MEA diberlakukan:

Dengan adanya pasar global maka tantangan bagi bidang desain produk jadi semakin tinggi. Kesiapan menghadapi persaingan global akan membuat seluruh praktisi dan institusi pendidikan (yang menghasilkan praktisi) harus siap. Siap berkompetisi dikancah global serta untuk institusi pendidikan ya siap menghasilkan praktisi yang siap berkompetisi dikancah global tentunya.

Awareness terhadap bidang ini akan terkatrol dengan mulai munculnya tenaga-tenaga ahli dalam negeri yang bisa berperan di pasar global, ya tentunya dengan ekspos yang baik dari media.

Bagaimana menurut kalian?


Ditulis oleh: Abang Edwin SA untuk Prodesina.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *