Merancang “Loveable Object” Agar Bisa Menekan Penumpukan Sampah

Sadarkah Anda bahwa hidup kita ini dipenuhi oleh banyak objek? misalnya rumah tangga dengan televisi yang ada ditiap kamar; rak dapur yang dipenuhi oleh blender, pemanggang roti, dan alat pembuat cappuccino; laci-laci yang dipenuhi dengan alat-alat seukuran saku yang bertenaga batere; dan lain sebagainya. 

Lebih dari satu abad yang lalu, istilah “sekali pakai” itu mengacu pada produk kecil berbiaya rendah seperti pisau cukur sekali pakai dan serbet kertas. Saat ini, hampir semuanya bisa sekali pakai – secara budaya diperbolehkan membuang apa pun dari smartphone, televisi, atau penyedot debu yang nyaris tidak digunakan, sampai ke kamar mandi.

Hal ini menyebabkan masalah limbah elektronik yang serius. Di Uni Eropa, gunungan papan sirkuit bekas dan sampah komputer lainnya tumbuh tiga kali lebih cepat. Mereka menghasilkan 40 ton limbah dalam proses pembuatan hanya untuk 1 ton produk elektronik dan sekitar 98% produk ini dibuang hanya dalam waktu enam bulan setelah pembelian. Mengingat banyaknya sumber daya berharga (termasuk emas dan logam langka lainnya) yang digunakan pada gadget kita, pasti akan lebih baik jika kita merawat dan memperbaikinya saat rusak, dan menjaganya agar bisa digunakan lebih lama. Namun yang terjadi justru sebaliknya: Umur produk diperpendek sebagai budaya penggunaan material jadi semakin menuju ke “sekali pakai”.

Gagasan “throwaway society” bukanlah hal baru. Ekonom Amerika Bernard London memperkenalkan pertama kali  istilah “planned obsolescence” pada tahun 1932 sebagai sarana untuk mendorong pengeluaran di antara para konsumen yang memiliki pendapatan lebih selama masa depresi. Konsep tersebut dipopulerkan oleh Vance Packard di The Waste Makers-nya pada tahun 1964. Sebenarnya, konsep “disposability” adalah syarat mutlak dalam budaya Amerika untuk penolakan tradisi dan penerimaan perubahan.

Produk yang bisa enak dirasakan

Memang ada pendekatan yang berbeda, salah satunya adalah desain yang tahan lama secara emosional, yang dapat membantu kita mengurangi konsumsi dan pemborosan sumber daya dengan membangun hubungan yang lebih langgeng antara kita dan produk yang kita beli. Sederhananya, ada baiknya kita merancang produk yang dibangun agar bertahan lebih lama, dan memberikan pengalaman jangka panjang. Istilah “emosional” digunakan di sini karena pola konsumsi dan limbah yang boros sebagian besar didorong oleh faktor emosional dan pengalaman.

Mempertimbangkan daya tahan emosional pada tahap perancangan membantu kita untuk menghentikan keinginan orang akan sesuatu yang baru, dan dapat membentuk model bisnis baru serta berkelanjutan. Produk yang bisa bertahan lama  akan berpotensi membangun model ekonomi dalam hal menciptakan produk, layanan upgrade dan perbaikan yang kuat, dan pelanggan setia – semuanya tanpa limbah yang berlebihan.

Dalam istilah desain, kita dapat mendukung keberlangsungan tingkat emosional yang lebih tinggi saat kita menentukan bahan yang bertahan dengan baik, dan mengembangkan kualitasnya dari waktu ke waktu. Kami dapat merancang produk yang lebih mudah diperbaiki, ditingkatkan, dan dipelihara sepanjang masa pakainya. Ini adalah strategi melanggengkan hidup produk yang efektif, dan sementara mereka dapat dimunculkan saat peningkatan biaya di tempat pembelian, mereka menghasilkan pendapatan di hilir, melalui pengenalan paket layanan dan upgrade.

Memperpanjang umur produk memiliki manfaat ekologis yang signifikan. Misalnya, pemanggang roti yang umurnya sekitar 12 bulan. Bahkan jika umur pemanggang roti diperpanjang hingga hanya 18 bulan melalui desain yang lebih tahan lama, perpanjangan umur tersebut akan menghasilkan pengurangan 50% konsumsi limbah yang terkait dengan pembuatan dan pendistribusiannya. Tingkatkan ini pada jumlah pembelian pemanggang roti nasional atau internasional, dan akan jelas betapa signifikan dampaknya.

Ada perasaan yang tumbuh bahwa industri elektronik konsumen harus beralih dari linear economy ke circular economy. Ekonomi melingkar (circular economy) adalah sistem ekonomi dimana sumber daya diusahakan agar bisa digunakan untuk selama mungkin. Nilai maksimum diekstraksi, sementara bahan dan energi dipulihkan atau didaur ulang sebanyak mungkin pada akhir masa pakai produk. Ini adalah pergeseran seismik dalam pemikiran, yang mempengaruhi segala hal mulai dari desain dan penyampaian produk hidupnya yang pendek, hingga bisa didapatkan pengalaman penggunaan material yang lebih tahan lama.

Satu hal jika sebuah produk bisa bertahan dengan baik, pada saat mereka bisa bertahan dan dapat diperbaiki berkali-kali sebelum didaur ulang memungkinkan kita untuk bisa berbagi kelebihan barang yang kita miliki. Merancang produk yang dapat disimpan lebih lama akan bisa membina hubungan yang lebih dalam dengan produk dan brand, yang juga bisa meningkatkan kemungkinan matangnya loyalitas terhadap sebuah brand.

Desain yang bisa bertahan lama secara emosional seperti itu tidak hanya masuk akal dari perspektif lingkungan dan sumber daya, namun dapat dilihat sebagai strategi bisnis yang layak secara komersial juga di dunia yang semakin kompetitif.


Ditulis oleh: Abang Edwin SA untuk Prodesina.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *