Sejarah

Pada awalnya…

Pada tahun 1983, atas insiatif Bagas P (IPTN), Agus Sachari (ITB), Hanny Nayoan (USAKTI), Taufan Soekarno (ITB) dan Oesriman Oesman (BPPT) perlu membentuk sebuah wadah untuk para profesional desainer produk yang jumlah tahun demi tahun bertambah, disamping juga perlunya perlindungan bagi para desainer yang bekerja secara profesional, baik sebagai konsultan maupun mereka yang bekerja di industri. Maka pada bulan Oktober 1983, dibentuklah PADII (Persatuan Akhli Desain Industri Indonesia). Melalui rapat yang intensif, berhasil pula dibentuk AD-ART PADII dan Dewan Penasehat yang terdiri dari But Mukhtar, Imam Buchori dan Wiranto Arismunadar. Anggota PADII dapat diklasifikasikan atas dua kategori, yaitu sebagai anggota muda (mahasiswa) dan anggota penuh (profesional).

Namun pada tahun 1984, atas insiatif beberapa pihak, kelahiran PADII dianggap masih terlalu prematur karena perkiraan anggota yang layak jumlahnya masih terbatas. Atas insiatif Dewan Penasehat, pada tahun 1985 PADII dirubah namanya menjadi FDI (Forum Desainer Industri) yang nantinya setelah anggota berjumlah lebih dari seratus orang akan dibentuk organisasi baru yang lebih mantap. Pada tahun 1988 diselnggarakan kongres pertama para desainer produk Indonesia.Kongres tersebut dihadiri oleh lebih dari 200 desainer dan dalam kongres tersebut disahkan pula nama organisasi IDPI (Ikatan Desainer Produk Indonesia), juga AD-ART Organisasi dan kode etik profesi. Dalam kongres tersebut terpilih ketua pertama yaitu Oesriman Oesman yang juga bekerja sebagai Direktur PINDAD-Bandung, kemudian diangkat Sekretaris Jenderal Organisasi yaitu Irvan Noeman. Atas anjuran beberapa pihak dan kemudahan pengesahan akta notaris, nama organisasi diubah menjadi ADPI (Asosiasi Desainer Produk Indonesia).

Program kerja ADPI yang berhasil dibentuk tersebut adalah menghimpun anggota seluas mungkin sesuai persayaratan yang telah disepakati. Sedangkan sekretariat ADPI masih dirangkap di alamat Sekjen ADPI di Jl Ganesha. Kemudian atas pertimbangan beberapa pihak, sekretariat ADPI dipindahkan dari Bandung ke Jakarta, dan kemudian memperoleh ruangan di gedung Jakarta Design Center. Dikarenakan kegiatan ADPI mengalami kevakuman, maka pada tahun 1995, atas insiatif beberapa anggota ADPI, diadakan kongres khusus ADPI dan ditunjuk Sdr. Taufik Ibrahim sebagai pengelola ADPI yang baru, dua tahun kemudian pengelolaan beralih kepada Mizan Alan de Neve. ADPI juga sempat mewakili Indonesia pada beberapa pertemuan ICSID dan pameran di International Design Forum di Singapura. Selain itu berhasil menerbitkan beberapa nomor buletin kegiatan ADPI Jakarta.

Pada bulan Juli 1996, di Bandung atas insiatif Eraj Rainir diselenggarakan pertemuan ADPI komisariat Bandung, namun tidak berlanjut karena kesibukan masing-masing anggotanya. Sejak tahun 1998, kepengurusan ADPI di pegang kembali oleh Irvan Noeman yang berdomisili di Jakarta. Pada tahun 1999, beberapa anggota senior ADPI memberi kontribusi dalam perumusan Undang-Undang No.31 Tahun 2000 tentang Desain Industri (HaKI) dan telah diberlakukan sejak bulan Desember 2000.

Peranan ADPI dimasa yang akan datang akan menjadi sangat penting, karena Desain Produk Industri telah memiliki landasan hukum yang kuat dalam menghadapi pasar global yang penuh dinamika. Disamping itu, dengan dijalankannya akreditasi profesi, maka ADPI akan berperanan luas dalam pengawasan pelaksanaan UU Desain Industri, juga akan semakin berperanan dalam proses akreditasi perguruan tinggi desain dan standar profesional para lulusan perguruan tinggi desain yang jumlahnya semakin meningkat.

Menghadapi dijalankannya Pasar Bebas di kawasan Asia Tenggara, ADPI merupakan organisasi para desainer produk diharapkan telah dapat menentukan langkah-langkah untuk menyusun standar kompetensi profesional seorang desainer produk ‘asing’ yang bekerja di Indonesia, dan juga standar kompetensi seorang desainer produk Indonesia jika bekerja di negara jiran. Disamping itu, ADPI merupakan wadah aspiratif para anggotanya disamping juga melakukan perlindungan profesional bagi tindakan yang kurang menguntungkan anggotanya. ADPI segera membentuk Dewan Kode Etik Profesi yang bertugas sebagai lembaga normatif hal-hal yang menyangkut praktik profesional para anggota dan praktik profesional tenaga asing. Dalam jangka pendek ADPI juga diharapkan menjadi anggota ICSID (International Council of Society of Industrial Design) yang memliki akses ke pelbagai organisasi desain produk di pelbagai negara.

(dirangkum dari pelbagai sumber dan dokumen)

Urutan Ketua ADPI semenjak terbentuk:

  1. Oesriman Oesman (1987-1996)
  2. Taufik Ibrahim
  3. Irvan Noeman
  4. Mizan Allan de Neve

Misi ADPI:

  1. Sebagai wadah para perancang produk Industri di Indonesia.
  2. Wahana komunikasi antar dan intra profesi.
  3. Memperjuangkan visi dan misi organisasi.
  4. Menyelenggarakan pelbagai program yang berkaitan dengan peningkatan martabat profesi.
  5. Memperluas jaringan informasi yang berkaitan dengan desain produk.
  6. Mengupayakan peningkatan kualitas anggota.

Berganti nama menjadi Aliansi Desainer Produk Industri Indonesia (ADPII)

Setelah vakum sekian lama, pada bulan 14 november tahun 2014 ADPI (Asosiasi Desainer Produk Indonesia) melaksanakan kongres nasional yang dihadiri desainer produk lintas angkatan dan latar belakang spesialisasi subsektor desain produk untuk menyepakati bersama lahirnya ADPII (Aliansi Desainer Produk Industri Indonesia) dengan Ketua Umum Adhi Nugraha, MA. Ketua Terdahulu Mizan Alan De Neve dan Ketua Terpilih Tegep Oktaviansyah.

ADPII berperan aktif dalam memperjuangkan kemapanan profesi Desain Produk Indonesia, menghimpun dan memberikan wadah bagi semua anggota untuk berkarya dan berperan aktif dalam mengembangkan dan memajukan profesi serta menjadi mitra dan wakil pemerintah dalam memberikan rekomendasi kebijakan dan menjamin nilai keporfesian desain produk.

Visi

ADPII berupaya secara berkelanjutan meningkatkan kualitas hidup sosial, budaya, ekonomi dan lingkungan masyarakat Indonesia melalui profesi desain produk.

Misi

ADPII memiliki komitmen untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat Indonesia dan seluruh dunia dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat, baik melalui perannya sebagai mitra pemerintah, lembaga internasional, dunia industri, dan dunia pendidikan

Tujuan

  • Membina dan mengembangkan profesi intelektual desainer produk industri indonesia untuk secara khusus meenunjang kepentingan pembangunan nasional negara kesatuan Republik Indonesia dan secara lebih luas lagi ikut serta berkontribusi dalam memecahkan persoalan global melalui pendekatan disiplin ilmu desain produk
  • ADPII memiliki komitmen untuuk memberikan kontirbusi kepada masyarakat Indonesia dan seluruh dunia dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat baik melalui perannya sebaga mitra pemerintah, lembaga internasional, dunia industri dan perdagangan untuk mendukung pembangunan nasional secara khusus dan kemaslahatan umat manusia secara umum, ataupun menjadi mitra dunia pendidikan desain produk industri dalam kaitan pengembangan profesi desainer produk industri.

Defenisi

Desain produk industri sebagai desain yang berupaya untuk menemukan dan menilai hubungan struktural, organisasi, fungsional, ekspresif dan ekonomi dengan tugas antara lain;

  1. Meningkatkan keberlanjutan dan perlindungan lingkungan global
  2. Memberikan manfaat dan kebebasan untukk komunitas manusia secara keseluruhan baik secara individu ataupun kolektif
  3. mendukung keragaman budaya terlepas dari globalisasi dunia.
  4. Memberikan produk layanan dan sistem, bentuk-bentuk yang ekspresif dan koheren dengan kompleksitas estetikanya yang tepat